Showing posts with label Seputar kita. Show all posts
Showing posts with label Seputar kita. Show all posts

January 30, 2016

Menyapa Konsumen Wajib, Namun Jangan Asal Sapa

Di era marketing 3.0 ini, konsumen / pelanggan tidak lagi diposisikan vertikal (sebagai "raja/ ratu"), mereka diposisikan horisontal ("sahabat"). Jelas bedanya, saat melayani pimpinan/ raja mungkin ada rasa tertentu yang dipaksakan, mungkin yang dibutuhkan dan dipersepsikan konsumen (sebagai raja/ ratu) berbeda jauh dengan yang kita persepsikan (sebagai pelayannya). Saat konsumen/ pelanggan diposisikan sebagai sahabat, maka kita memiliki kesamaan rasa, kesamaan kebutuhan, dan kedekatan secara emosional. 

Sebagai sahabat, konsumen mengharapkan akan mudah menghubungi kita, bebas berkonsultasi dan mendapatkan produk/ layanan sesuai dengan yang diinginkannya. Perasaan konsumen tentang produk/ jasa yang kita berikanpun dengan mudah diluapkan dan di sharingkan dengan sahabat lainnya. Social Media merupakan media komunikasi yang banyak digunakan oleh konsumen di era ini.

Nah, dengan perubahan perilaku pasar seperti itu, tentunya kita musti rajin menyapa konsumen sebagai sahabat. "Menyapa", bukan membroadcast pesan :). Sebagai sahabat, tentunya kita telah memahami bagaimana konsumen kita, sehingga topik sapaan pun menjadi menyenangkan. Beberapa hal yang perlu kita ketahui saat bersapa dengan konsumen :
  1. Ketahuilah background/ aktifitasnya (terkait dengan produk/ jasa yang kita jual).
    Hal ini tidak sulit, karena hampir tiap orang saat ini terhubung dengan media sosial, sehingga ini memudahkan kita untuk mencari tahu tentang konsumen/ pelanggan kita. Cermati profil, hobby dan pekerjaan sehari-harinya. Sebuah kesalahan apabila anda menganggap konsumen anda seorang koki padahal nyatanya dia adalah pemilik beberapa restoran.
  2. Bersapalah layaknya sahabat lama. Ingat, sahabat tidak menggurui apalagi menyalahkan, melainkan mendengarkan dan berbagi pengalaman (sharing).
    Sharing bukan menggurui, bukan menyalahkan. Sharing antar sahabat muncul dari obrolan tentang permasalahan sahabat (konsumen), dan anda berempaty untuk menjadi pendengar dan memberikan advokasi yang diinginkannya.
  3. Berikan kesan bahwa kita tetap ingin terhubung dengan mereka "keep in touch".
    Di akhir pembicaraan, buatlah kesan bahwa produk/ layanan kita dapat diandalkan, bahwa tim kita akan siap terhubung dengan konsumen/ pelanggan sewaktu-waktu dibutuhkan.

Intinya adalah : "Berikan kesan bahwa kita adalah sahabat".
Semoga bermanfaat.




March 14, 2015

Lifelong Learning


Ibu Sinta, 70 tahun sedang membuat Blog-nya
Belajar apapun itu, adalah sebuah aktifitas yang seharusnya memang tidak mengenal usia.

Minggu lalu, saya menemani seorang rekan yang sedang melakukan FGD (Focus Group Discussion) untuk program BLC (Broadband Learning Centre) di Surabaya.  BLC merupakan program dari pemerintah kota Surabaya yang membantu masyarakat untuk belajar komputer, mulai dari aplikasi office (writer, spreadsheets, presentation), desain grafis dan internet secara gratis. Program BLC ini merupakan suatu hal yang istimewa dan bermanfaat bagi masyarakat, baik untuk kebutuhan pekerjaan maupun sekedar jembatan informasi.

Untuk kebutuhan penelitian, kami berkunjung ke salah satu BLC sebagai sampel FGD tersebut yaitu di kelas internet BLC Genteng Kali Surabaya. Ketika sampai disana ternyata kami menjumpai bahwa siswa BLC adalah bapak dan ibu yang usianya tak lagi muda (sebagian berusia diatas 45 tahun, dan yang pasti tidak ada yang lebih muda dari saya). Saat itu mereka sedang belajar internet (mulai dari pengenalan browser, membuat email, blogging dan membuat akun facebook).


Suasana Kelas Internet BLC Genteng Kali Surabaya

Sebagian dari peserta BLC ini adalah ibu rumah tangga yang meluangkan waktu diantara kesibukan mengurus keluarga untuk tetap menambah wawasan dan ilmunya.

Namun, ada sosok yang istimewa diantara para peserta BLC tersebut. Diantara bapak dan ibu peserta BLC di kelas internet itu, ada seorang ibu yang tinggal di daerah Kertajaya Surabaya pada usia yang sudah bisa disebut sebagai Lansia (Berusia 70 tahun) dengan semangatnya, datang belajar setiap minggu naik angkot (angkutan kota) ke BLC Genteng Kali Surabaya untuk belajar internet. WOW,ini satu hal yang tidak saya bayangkan sebelumnya.

Melihat beliau, sungguh saya merasa kagum dan tergerak untuk menelisik, apa motivasi yang menguatkan langkah dan semangat ibu ini untuk belajar Internet. Dari obrolan demi obrolan, ibu ini belajar komputer dan internet agar tidak ketinggalan informasi, agar mampu mendampingi sang cucu apabila mereka berselancar di dunia maya dan mengisi waktu senggangnya. Beliau belajar tidak untuk pekerjaannya, beliau belajar tidak untuk mendapatkan sebuah nilai apalagi sertifikat. Beliau tidak mau dibilang orang tua yang GAPTEK. Dan bagi beliau, tak ada kata terlambat untuk belajar, tak ada kata "tidak bisa" selama masih ada pengajar yang mampu menyampaikan ilmunya.

Sosok yang inspiratif bagi saya. Dan semoga menginspirasi setiap generasi muda, inspirasi untuk menimba ilmu dan inspirasi untuk berbagi. Yang jelas, karena inspirasi dari beliau saya menghidupkan lagi blog saya yang telah sempat mati suri ini.

December 20, 2014

Harmoni Perjuangan, Cinta dan Syukur

Beberapa hari yang lalu, saya menonton film Exodus : Gods and Kings. Ternyata ceritanya terinspirasi dari kisah Nabi Musa AS yang sebenarnya agak berbeda dengan yang dikisahkan selama ini. Dalam tulisan ini, saya tidak akan membahas perbedaan itu. Namun lebih pada pesan "baik" yang disampaikan dalam sebuah film Exodus.

Ya dalam setiap kreasi manusia, selalu akan ada unsur kebaikan dan mungkin ketidakbaikan, karena tiada manusia yang sempurna. Mungkin ketidakbaikan itu adalah hal yang tidak disengaja. Jadi, marilah kita yang berakal dan dewasa, mampu menyaring sendiri unsur kebaikan yang ada dari setiap kreasi.

Dalam film tersebut, betapa kita ditunjukkan kuasa sang Pencipta atas segala yang ada di bumi ini. Namun, DIA meminta manusia untuk tidak duduk manis, kita sebagai manusia harus berusaha dengan segala anugerah yang telah diberikan. Pada suatu titik ketika kita tak mampu dan itu mustahil dilakukan, maka campur tangan Sang Pencipta lah yang akan membuat kita menjadi mampu. Dan seyogyanya lah, ketika sesuatu yang sudah kita usahakan itu terwujud, kita tidak lantas memupuk dada, seolah pencapaian itu hanya karena kerja keras kita. Kelupaan atas campur tangan Sang Pencipta hanya akan memusnahkan apa yang kita miliki.

Hal baik lain yang dapat diambil dari film ini adalah tentang tim dan keluarga. Mencuplik dari sebuah kalimat : keluarga bukanlah dari siapa darah di tubuh kita mengalir, melainkan siapa yang mencintai dan mencintai kita.

Sahabat, tim kerja, lingkungan kita adalah keluarga kita. Merekapun adalah pribadi-pribadi yang andil dalam menguatkan hati dan semangat kita dalam setiap upaya dan doa. Raja Ramses dikisahkan dalam film tersebut adalah sosok yang tidak memiliki rasa terimakasih pada keluarganya. Dan akhirnya dia tidak berhasil memenangkan apa yang diharapkan, dia tidak memiliki support hati dan moral dari keluarga besarnyanya, karena dia menganggap nyawa anak buah tidak penting, dia menganggap manusia yang berbeda suku sebagai budak yang tak layak untuk disejahterakan. Raja Ramses tinggal bersama keluarga kecilnya (istri dan seorang anak), sedangkan Musa dalam kisah itu berjuang bersama keluarga besarnya (tidak memiliki pertalian darah yang dekat dengannya, kecuali Harun), istri dan anaknya tertinggal di suatu desa. Namun, Musa bersama keluarga besarnya lah yang memenangkan pertandingan ini.

Sebaik-baiknya manusia adalah yang dapat membawa manfaat kepada orang lain, apalagi kepada lebih banyak orang. Dari sini, saya memetik semangat baik ibaratnya seorang enterpreneur. Mungkin di awal proses perjalanan sebuah bisnis yang baru dibentuk, kita berjalan sendiri. Namun alangkah lebih baik jika dalam prosesnya kita perlahan mengajak pribadi-pribadi baru, untuk bersama berjuang dan berbagi pencapaian atas setiap keberhasilan, menyampaikan berkah dari Sang Pencipta kepada lebih banyak pribadi yang membutuhkan. Ketika hal itu terjadi, dengan ijin dan campur tangan Sang Pencipta, maka menjadi perusahaan yang tumbuh berkembang bukan hal mustahil.

Marilah kita ciptakan sebuah harmoni, antara perjuangan, cinta dan wujud syukur pada Sang Pencipta alam semesta atas apa yang kita jalani agar lebih berarti dan bermanfaat untuk lebih banyak jiwa.




December 16, 2010

Perjuangan Hidup





Pernah melihat kejadian-kejadian mirip ini?

Kalau saya pribadi, setelah ulak-alik dari Surabaya ke Gresik, jadi sering lihat yang seperti ini. Yang terlintas dalam benak saya, mulai dari : "terheran-heran", "bahaya", "was-was", "menghindar", "trenyuh" dan hingga tak mampu lagi hendak berkata apa.


Saya heran :
Kog bisa mereka melakukan hal-hal seperti itu? Secara logika, jelas hal ini membahayakan pelaku dan orang lain... membahayakan saya juga mungkin sebagai pengguna jalan yg berpapasan atau bersamaan dengan mereka.

Saya was-was :
Aduh, jangan sampai saya mendekat pada mereka hingga menyenggol barang bawaannya, aduh... bagaimana kalau ada pengendara lain yang "ngebut" hingga mengenai mereka?

Tapi disisi lain, saya pun trenyuh...mau dibilang apa seandainya saya tegur mereka :
Saya : Pak, gak takut ambrol barang bawaannya? Ga takut jatuh bu?

Pembawa rumput : Trus saya naik apa mbak,... ini kendaraan yg saya punya...kalau saya bolak-balik ga nutut waktunya, jauh mbaak...


Pengendara motor boncengan beberapa orang, Bapak & Ibu pembawa barang/ sayur naik motor : Ya, ini biar cepet mbak, sekalian ... karna tempatnya jauh, kalau ulak-alik bensin dan waktu nya ga nututi

Tukang becak pembawa sayur dan ibu yg naik diatasnya : enggak mbak, sudah biasa... jaraknya sih ga terlalu jauh, tp kalau bolak-balik nanti kapan saya jualannya, ini saja saya masih bolak-balik 3-5x


Pembawa lemari : saya ini kan pengrajin kayu, kerja sendiri, ngirim sendiri... punya kendaraan juga baru motor ini... kalau saya angkut pake pick up, berapa harga mebel yang saya jual, kalau orang-orang bandingkan dengan harga di mall... mebel saya bisa gak laku mbak


Hmm, mendengar dan merasakan apa kesulitan mereka... rasanya memang tidak bisa dipikir secara logika, hal-hal membahayakan yang mereka lakukan... bapak-bapak ini harus menghidupi keluarganya, ketrampilan inilah yang mereka miliki, sarana ini saja yang mereka punyai... mereka harus benar-benar "ngirit", untuk bisa menabung dan akhirnya memiliki sarana yang lebih layak untuk digunakan dalam bekerja.

Ya, saya akhirnya tak mampu berkata apa-apa... saat ini mungkin belum bisa membantu orang-orang seperti ini, selain dengan doa, selain dengan tidak "menghargai murah" hasil jerih payah mereka (bahkan jangan sampai, menawar barang yang mereka jual dengan tidak realistis), tapi semoga suatu saat sedikit demi sedikit bisa meringankan beban mereka. Amiin

Satu hal yang patut dicontoh dari mereka : adalah semangat kerja, tak pantang menyerah, untuk mereka dan orang-orang yang mereka cintai. Selain keceriaan yang nampak dari mereka saat bercengkrama dengan rekan-rekan kerjanya di sela kesibukan penuh keringat.

December 7, 2010

Fenomena Perbukuan saat ini, tak adakah lagi harga untuk sebuah kualitas?

Dua hari ini, setelah berkeliling di beberapa toko buku : Gramedia, Togamas, Uranus dan Rumah buku dan setelah sekian banyak membaca daftar buku tersaji di beberapa distributor, ada perasaan "trenyuh" dan prihatin".


Dengan membaca buku kita membentang cakrawala pengetahuan, dengan menulis kita berbagi ilmu... buku adalah cendela untuk lebih berkarya, bagi penulisnya dan bagi pembacanya.


Namun, fenomena apa yang terjadi dengan "perbukuan" di tanah air tercinta kita?
Kini kian banyak buku beredar (dengan topik yang mirip-mirip sama). Dengan topik yang kurang lebih sama itu, tidak ada yang lebih melengkapi, bahkan ada tata bahasa dan sajian yang "sama", rasanya miris sekali... pembaca awam yang ingin belajar tentang materi didalamnya, seakan tertipu... hanya membeli tumpukan kertas tanpa makna cukup yg bisa diserap.


Kinipun kian banyak penerbit, namun begitu banyak buku diterbitkan tanpa "pengarang"... aneh, tapi nyata. Buku inipun ber-ISBN, dan setelah sedikit browsing, ternyata sebagian hanya menyalin atau menterjemahkan isi buku lainnya. Beberapa penerbit pun seakan tak cukup mengapresiasi karya tulis, terbukti dengan diobral hancurnya harga buku, sampai saya menemukan buku berharga Rp.5.000,- dan bahkan Rp. 2.000,- dengan isi yang lumayan berbobot.


Apresiasi atas pemikiran berharga tampaknya tak ada lagi, semuanya hanya dihargai sebagai kertas... "buku tipis segini aja harganya mahal banget sih?, fotocopy saja gak akan sampe Rp.2.000,- deh ".
Hmm, kalimat ini pernah terdengar di telinga saya dari sekelompok mahasiswa, ketika sedang berjalan-jalan di Gramedia. Panas juga telinga ini, mungkin karena saya juga seorang penulis, mungkin karena saya juga terlibat di penerbitan buku,.. tapi coba perhatikan kalimat ini :

Quote dari Mario Teguh (yang saya ketahui dari seorang rekan penulis : Rezi Arlansyah Soripada)
Jika saya berkualitas tinggi,dibayar rendah oleh orang yang TIDAK mampu,dan saya terima dengan ikhlas;itu namanya berharap kepada Tuhan.
Jika saya berkualitas tinggi,menerima bayaran rendah dari orang yang mampu membayar,itu berarti saya tidak menghargai diri saya.
Saya harus meng-HARGA-i diri saya sebagai anugerah dari Tuhan.
Saya tidak bekerja untuk bayaran.
Saya bekerja untuk harga diri saya


Sebagai pembaca buku, apakah perbuatan yang pantas, bila menganggap harga buku layaknya harga kertas bekas? Apakah tak ada apresiasi apapun yang pantas anda berikan bagi penulis buku yang telah berbagi pengetahuan pada anda?


Jika mengharapkan kondisi ideal dari fenomena ini, "seharusnya" Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI), Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) segera bertindak. Masih banyak penulis yang kreatif dan benar-benar mencurahkan ilmunya untuk berbagi dalam tulisan. Namun, saya pun saat ini bukan siapa-siapa dalam IKAPI maupun PNRI. Setidaknya, melalui tulisan ini saya mengajak anda para penulis, untuk tidak menyerah dalam tulisan kreatif dengan gaya masing-masing dan tak menyerah dengan "harga" yang diberikan penerbit maupun pembaca untuk anda. Semoga, tulisan singkat ini, pun bukan tulisan sampah untuk pembacanya dan menginspirasi kita semua.

April 22, 2010

Madura yang kini jauh berubah

Kurang lebih 7 tahun sudah tak mampir ke pulau garam ini, selain tak ada sanak family untuk tempat mampir, konon madura yang panas dan keharusan menyeberang dengan kapal yang tak pernah sepi (alias berdesak-desakan) menjadikan alasan kenapa saya lebih berminat berwisata ke Malang atau kota lain dibandingkan ke Madura.

Ketika Jembatan Suramadu pun mulai dioperasikan, bahkan keengganan untuk ke Madura pun belum juga hilang. Ya, mungkin karena "persepsi", kalau sudah dibilang "persepsi" susah juga mau dirubah.



Hari ini iseng saja, karena memang benar-benar sedang libur, hingga memutuskan "jalan-jalan" ke Pulau Garam "Madura" melalui Jembatan Suramadu.

Pengalaman Baru bagi saya. Tak sampai 1 jam perjalanan akhirnya sampai juga di Pulau Madura....hmmm, mulai membandingkan dengan 7 tahun yang lalu....persepsi saya mulai bergeser, madura kini sangat berbeda.

Ketika masuk ke kota Bangkalan, waah, kota ini bersih. Tak ada sampah-sampah bekas aktifitas perdagangan pasar yang meluber ke jalan. Padahal di Surabaya banyak orang berpersepsi bahwa kalau yang berdagang berasal dari Madura, susah sekali menertibkan dan membuat areal perdagangan itu bersih. Apa benar begitu???

Hampiran pertama adalah tempat menjual cinderamata. Disana nampak beragam oleh-oleh :
- batik tulis madura yang sangat cantik, dengan pewarnaan yang tegas begitu memukau pandangan mata
- kaos dengan gambar jembatan suramadu
- dompet, udeng, dll
- camilan khas madura

Setelah cukup waktu berkeliling di kota Bangkalan, karena waktu juga sudah menunjukkan jam makan siang, mampirlah kami ke sebuah warung makan "Ole Olang", sebuah resto yang nampaknya baru berdiri, namun telah siap dengan sajian makanan yang memuaskan lidah dan nuansa resto yang begitu nyaman dengan alunan lagu-lagu madura.

Persepsi dan kesan baru mulai tertangkap dari perjalanan beberapa jam hari ini
Madura mulai berbenah, potensi yang dulu tersembunyi kini mulai nampak. Adanya Suramadu membuat jarak Surabaya - Madura kini tak lagi "jauh" untuk dijangkau.

Kalau sekarang hanya memiliki 1 hari libur, pulau Madura bisa menjadi alternatif wisata yang cepat, murah dan bebas macet.

Disalin dari catatan saya di Facebook

February 10, 2010

Popeye aja tau

Iseng pas ganti-ganti channel TV, lihat film kartun Popeye. Waahh... tapi saya ga hapal nama pemerannya ya...

Di potongan cerita itu saja ada Bapak Popeye dan dua anaknya A (kakak) dan B (adik). Suatu saat si B sakit perut, dan sang kakak bilang,"minum aja obat kakak, dulu kakak dikasih dokter pas sakit perut dan sembuh". Buru-buru si Bapak mengatakan, "eh, jangan minum sembarang obat, obat itu diberikan dokter hanya untuk kakak".

Diluar cerita popeye itu,
Kemarin juga pas ngelihat ada berita di salah satu televisi yg menceritakan seorang anak yang kulit di sekitar lehernya jadi gosong setelah imunisasi di sekolah. Lalu ada penjelasan seorang dokter bahwa "imunisasi itu menjadi memberikan masalah pada si anak karena ternyata anak tersebut menderita alergi tertentu yang dibilang "langka".

Perilaku yang umum di sekitar kita, setelah seseorang dokter memberi obat A kepada pasien, maka bila sembuh, dengan mudahnya pasien tersebut menyarankan obat yang sama pada orang lain dengan keluhan penyakit yang sama; dan ironisnya obat tersebut lantas juga dikonsumsi tanpa berkonsultasi dengan dokter.

Padahal pemberian obat maupun imunisasi adalah tindakan memasukkan bahan kimia ke dalam tubuh. Tentunya harus spesifik donk, karena tidak semua manusia bisa di sama-kan kondisi tubuhnya.

Popeye aja tahu....!!!

Disalin dari catatan saya di Facebook, 22/2/2009

RAPOR

Rapor, dinanti-nanti setiap yang belajar, setiap yang bekerja dan setiap siapapun yang berkompetisi. Rapor tidak melulu disajikan dalam buku ataupun selembar kertas, bagi yang bekerja...bisa jadi rapor adalah rewards (atas keberhasilan) atau punishment (atas kegagalan).


Tentu tak enak rasanya jika rapornya jelek diantara teman-temannya yang rapornya bagus. Akan tetapi, bagaimana dengan yang bertugas memberikan nilai pada rapor itu?

Bagaimana menilai prestasi seseorang?

Tentunya banyak yang harus dipertimbangkan. Memberikan parameter penilaian untuk ini tentu harus sangat berhati-hati, jangan asal menentukan parameter tapi jangan terlalu lama berfikir untuk mendapatkan parameter ini (karena terlalu lama, nanti ga keluar-keluar rapornya).

Disalin dari catatan saya di Facebook, 14/3/2009

Nama "panggilan"

Di sekeliling kita, tentu ada teman-teman kita yang biasa dipanggil tidak dengan nama yang sebenarnya atau sering kita istilahkan dengan "nama panggilan". Ada yang nama panggilannya, si "endul", "pacul", "tulkinuk", "tweety" eehhh ndak semua nama panggilannya jelek, ada juga yang dipanggil dengan nama "einstein", "miss ring-ring" bahkan dipanggil dengan nama artis seperti :"tamara" dan "luna maya".

Apapun itu, nama panggilan atau nama julukan melekat pada diri seseorang karena ada salah satu ciri personality yang bisa dinyatakan identik antara seseorang dengan julukannya. Seorang yang dipanggil dengan nama "einstein", bisa jadi karena dianggap pintar dengan gaya berpenampilan sangat biasa seperti yang digambarkan pada "Albert Einstein". Seseorang dipanggil dengan nama "Tamara", bisa jadi memang dianggap cantik, energik, lincah dan supel seperti artis Tamara.

Nama-nama panggilan yang saya sebut diatas, kebanyakan muncul bukan dari pribadi orang yang bersangkutan, melainkan nama-nama yang diberikan orang lain yang menilai personaliti orang yang persangkutan. Namun, adakalanya nama panggilan sengaja dibuat sendiri dan diperkenalkan langsung oleh yang bersangkutan.

Seperti halnya sebuah brand, nama panggilan juga merupakan sebuah personality branding, sebuah upaya dari seseorang agar dirinya mudah diingat atau dikenali. Seorang teman bernama Widayanti, dahulu setiap kali berkenalan selalu mengatakan, "Nama saya Widayanti, anda cukup memanggilnya Wida, namun jika anda lupa ingat saja Krisdayanti, karna nama belakang kita sama". Perkenalan yang menarik. Membuat orang memperhatikan, dan mendengarkan dengan agak lama. Tidak jarang bukan, kita lupa dengan nama seseorang karena perkenalan sekilas yang hanya menyebutkan nama.

Disalin dari catatan saya di Facebook, 16/3/2009

Saat segalanya ingin dibuat otomatis, sekali tombol ON maka selesailah semua pekerjaan tampaknya itu adalah obsesi dan kesenangan buat kita.


Sama halnya saat semua software statistik tersedia, dengan beberapa kali klik, keluarlah sebuah kesimpulan...Tolak H0 atau Gagal Tolak H0. Bahkan karenanya seorang dokter yang juga adalah guru besar dan pengajar mata kuliah Statistik untuk mahasiswa Fakultas Kedokteran di sebuah universitas di Denpasar menyatakan, "betapa mudahnya statistik, bahkan kini dengan excel pun bisa".

Ya memang sih,.... tapi gimana ya...

Saat semuanya telah jadi otomatis, kadang yang hanya terbiasa dengan otomatisasi itu jadi tidak memahami esensi suatu pekerjaan dan yang lebih parah, adalah tak paham fungsi dari sebuah aktifitas.

Kalau dulu untuk melakukan pemeriksaan gula darah, perlu dilakukan dengan manual, mencampurkan serum ke reagen, mengaduk dengan kecepatan tertentu, suhu tertentu, dll... kini tinggal pake pengukur gula darah otomatis seharga 300ribuan saja, kita sudah bisa tau berapa kadar gula darah kita sewaktu waktu. Atau sebuah laboratorium klinik, tinggal saja mencari operator untuk menata tabung sampel darah dalam sebuah alat besar, klik ON maka semua telah bekerja dengan baik. Tak perlu lagi rekruitmen SDM dengan IP Sangat Memuaskan atau bahkan Dengan Pujian.

Ada baiknya, namun ada dampak negatifnya.... saat semuanya tinggal klik, tinggal tekan ON maka apabila terjadi sebuah kegagalan, tak akan dapat dilkukan penelusuran dengan baik.

Pada saat penggunaan sebuah metode statistik pada software-software yang telah dibakukan proses analisisnya, seseorang "operator pengolahan data" tak lagi akan perhatikan asumsi yang harus ada. Semuanya diidentikkan dengan asumsi Normal. Padahal pada kenyataannya, tak semuanya adalah Normal.

Ngapain dibikin rumit, kalau dibikin simpel bisa....tapi ya benar, kalau dengan simpel itu semuanya bisa jadi benar. Kalau salah???

Bagi yang sedang belajar, mungkin saat proses manual saat semuanya tidak diperbolehkan langsung tekan ON atau klak-klik-klak-klik, memang itu "tampak menjenuhkan" hanya jika tak paham bagaimana mengaplikasikannya. Namun bagi yang telah mahir, tak ada salahnya kembali mereview...bagaimana sebuah proses dijalankan.


Disalin dari catatan saya di Facebook, 9/4/2009

Puas dan atau Benar


Memandangi sekeliling, jadi inget celetukan seorang staf yang merasa perlu "ber-empati" karena kerjaan temannya kerap dinilai ceroboh atau salah melulu oleh atasan & manajemen yang lebih tinggi:

"duuuh, orang2 itu kog ga pernah puas ya..., padahal si pelangi (bukan nama sebenarnya) sudah berusaha kerja extra lama untuk menyelesaikan tugas ini, mbok ya pengertian..."

Sesaat setelah dengar celetukan itu, saya terkesima, haruskah turut ber-empati? haruskah memaklumi? tapi yang jelas, agak aneh saja mendengarnya. Ukuran keberhasilan pekerjaan, benar salah atau puas tidak puas, atau keduanya, atau boleh memilih sesuka hati? Ukuran puasnya seberapa? Ukuran benarnya bagaimana? Atau, siapa yang harus menilai kepuasan dan kebenaran itu?

Ternyata tidak mudah menjelaskan target dari sebuah pekerjaan.Ternyata banyak staf nampak "bingung" saat menerima sebuah instruksi (menerima instruksi saja sudah bingung, apalagi mengerjakannya), bagaimana bisa mencapai sebuah target : "BERHASIL".

Dari pengamatan dan sharing para kerabat, nampaknya ada beberapa kecurigaan mengenai penyebab terjadinya kebingungan ini :
- pemberi instruksi juga tak memahami GOAL pekerjaan yang akan diperintahkan
- sistem tidak jelas atau bahkan sistem tidak ada (kata seorang rekan : salahkan saja sistem)
- terlalu banyak yang merasa "menjadi BOSS" (kata teman yang lain - dalam bahasa jawa : "kakean juragan")
- the wrong man on the wrong place (ibaratnya, mesin jahit dipakai menyulam untuk jadi karpet atau nokia communicator 9500 dipakai sebagai palu untuk menancapkan paku didinding --> siapa yang akan rusak : mesin jahit dan nokia communicator 9500 atau bahan karpet dan dindingnya???)

Disalin dari catatan saya di Facebook, 13/05/2009



Banyak persepsi ketika 3 kata ini diucapkan bersama-sama, namun bagi saya itulah perjalanan hidup. Sejak awal lahir, kita akan mulai belajar...belajar melihat, mengenali benda, berbicara, merangkak...bukan hanya belajar, tapi sekaligus mempraktekkannya (work). Ketika sudah bisa berbicara, ketika sudah bisa mengenali dan memegang sebuah benda, berjalan bahkan berlari, maka segera kita melakukan eksplorasi dan bermain-main dengan semuanya itu.


Ini merupakan sebuah siklus
Bagaikan sebuah roda, proses belajar (learn), Bekerja (Work) dan Bermain (Play), akan berputar terus menerus dari awal seseorang lahir tiada henti hingga harus menghembuskan nafas terakhir. Namun, porsi diantara ketiga proses ini antar manusia tidaklah sama, dan inilah yang mengendalikan arah menggelindingnya roda kehidupan kita, apakah akan menggelinding ke atas (walau sedikit berat), menggelinding kebawah, atau kekanan dan kekiri saja menghindari paku-paku yang tersebar di jalanan.

Filosofi Learn, Work & Play, pernah dicoba diambil oleh seorang owner perusahaan nasional di negara kita. Dengan visinya yang kuat dan berusaha menyeimbangkan ketiga proses ini jadilah impiannya menjadi sebuah kenyataan. Akhirnya, dia menemukan sebuah kunci jawaban yang melengkapi filosofi tersebut agar roda menggelinding ke atas, perlahan namun pasti, yakni : Learn Well, Work Well & Play Well. Semua harus dilakukan dengan sangat sempurna dengan target 100% berhasil (seperti hal-nya saat kita bayi dan mencoba belajar berjalan, hingga akhirnya bisa berlari-lari).

Namun, yang perlu diingat :
LEARN bukan hanya di sekolah, bukan hanya dikampus, bukan hanya untuk menjadi akademisi/ guru besar.
WORK bukan hanya di kantor, bukan hanya dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore
PLAY bukan hanya saat balita atau anak-anak dan tidak selalu dengan bantuan benda yang disebut "toys".

Ketika bisa mensinergikan ketiga proses ini dengan dengan komposisi yang cantik dan sempurna, maka ketika itulah kita bisa benar-benar menikmati hidup.

Disalin dari catatan saya di Facebook, 14/5/2009

Rumah Sakit



Foto diatas saya ambil tanggal 21 Oktober 2007, jam 11.24 WIB di salah satu jalanan RSUD Dr.Soetomo.


Rumah sakit rujukan se Indonesia Timur ini, tempat pendidikan utama para dokter, tempat para ahli di bidang kesehatan berprofesi nampak kumuh. Siang, apalagi malam; nampak tikar tergelar dengan para penjaganya (diantara para penjaga bahkan bayi hingga kakek nenek). Sungguh mengenaskan.

Tak dapat disalahkan, sehingga para penjaga itu turut menginap di Rumah Sakit ini. Mereka datang dari luar kota, bahkan luar pulau. Mau nge-kos di Surabaya, berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan?, mau meninggalkan bayi di kampung halaman - siapa yang akan menjaganya? dan bagaimana tega meninggalkan orang tercinta dalam kondisi sakit di perantauan.

Lalu bagaimana? Apakah selama bertahun-tahun berdiri, selama bertahun-tahun menelorkan para tenaga ahli (sehingga ketika sudah ahli tak lagi mau berada di rumah sakit ini lebih dari 2 jam sehari) tak juga bisa disediakan tempat berteduh yang layak untuk para penjaga pasien?

Siapapun ga berharap akan menginap disini, seberapapun elite nya sebuah rumah sakit. Kenapa di Indonesia dinamakan rumah sakit ya?


Disalin dari catatan saya di Facebook 17/5/2009

Nila Setitik, Rusak Susu Sebelanga

Sementara teknik manipulasi berkembang begitu pesat, teknologi kedokteran dan farmasi merayap saja susah.

Kalimat diatas menggambarkan kejengkelan saya terhadap masyarakat di negeri Indonesia tercinta ini yang merusak sendiri image kekayaan bangsanya.

Bagaimana bisa berbangga hati, Bagaimana bisa tidak beralih menjadi penyuka produk bangsa lain dan bagaimana bisa tak sinis?

Di salah satu acara TV One bertajuk Yang Membeli, Yang Tertipu (26/05/09 pukul 01.00 WIB), ditayangkan investigasi tentang manipulasi produsen Geplak di Jogjakarta demi untuk meraih rupiah.

Geplak merupakan makanan tradisional di Jawa Tengah, pastinya karena Jogjakarta adalah merupakan salah satu tujuan wisata domestik maupun internasional, makanan ini kerap dipilih sebagai oleh-oleh atau sekedar camilan santap sore.

Geplak tak lagi dibuat dengan bahan bakar parutan kelapa, melainkan parutan pepaya muda,pewarna yang dipakai tak lagi adalah pewarna makanan, melainkan pewarna pakaian bahkan pewarna plastik. Lagi-lagi hal ini dilakukan atas dasar alasan ekonomi : kelapa mahal dan pewarna makanan jauh lebih mahal dibandingkan pewarna pakaian / pewarna plastik.

Padahal siapa suruh beri harga murah untuk geplak?

Pantas saja, perkembangan varian penyakit begitu berkembang pesat di negeri ini, hingga obat-obatan dari negeri seberang tak lagi mampu mengatasinya. Yah, karena estimasi makanan/ minuman yang dikonsumsi oleh masyarakat kita jauh dari prakiraan standar mereka. Sementara itu teknologi kedokteran dan farmasi kita masih saja berjalan di tempat karena penelitian tidak dikembangkan, sebagian besar hanya copy-paste dari penelitian yang ada di negara lain. Ironisnya, profesor di bidang kedokteran justru yang terbanyak di negeri ini, Doktor di bidang farmasi-pun tak jarang kita temui.

Katanya sudah ada pembinaan bagi para produsen geplak ini, namun kasus yang sama masih saja terulang. Apakah cukup dimaklumi dengan embel-embel "ketidaktahuan" ataukah ini merupakan sketa "keserakahan"?

PR Besar???
Ya, ini memang PR besar bagi para orang pintar di negeri ini, bagi para pejabat dinas kesehatan, pejabat balai POM, pemerintah kota Jogjakarta dan siapapun yang merasa peduli akan citra kuliner tradisional di negara kita.

Disalin dari catatan saya di Facebook, 26/5/2009

January 23, 2009

Ada Apa di Gunung Kawi?

Ada apa ya di Gunung Kawi? Yaa...itulah pertanyaan saya, pada hari-hari tertentu orang2 "tertentu", pula berbondong-bondong datang dan berkunjung kesana....

Iseng-iseng, setelah dari Karang Kates, mampir deh ke Wisata Religi Gunung Kawi. Ternyata, orang-orang pada berhenti, parkir dan akhirnya berjalan di suatu tempat...wah pokoknya banyak banget deh jasa parkir di sini.

Apa menariknya juga kalau sudah berjubel orang seperti itu. Bertiga (dengan om marmotji dan mas semplon), akhirnya kita memutuskan ambil rute lain yang berbeda dengan kebanyakan orang.

Wow, ternyata jika diteruskan, ada pemandangan-pemandangan cantik dari puncak gunung Kawi.


Kalau bagi saya, inilah menariknya wisata Gunung Kawi yang sesungguhnya...:)

Dimana ya?



Kira-kira, di lokasi mana gambar diatas diambil? Di Bali atau dimana ya?

Lokasi itu ada di kawasan Bendungan Karang Kates.
Karang Kates sebenarnya memiliki value lebih dari sekedar sebuah bendungan. Lokasi ini tanpa polesan yang banyak memakan biaya sebenarnya bisa menjadi lokasi kunjungan wisata yang cukup cantik.

Menikmati Car Free Day

Siapa sih, orang yang ga pingin punya kendaraan pribadi, entah kendaraan roda dua atau kendaraan roda empat. Tatkala kredit kendaraan semakin mudah dengan cicilan yang ringan, bisa jadi disebuah kota besar seperti surabaya hampir tiap orang memiliki kendaraan pribadi, bahkan ada pula yang memiliki lebih dari satu kendaraan pribadi.

Surabaya dikenal sebagai kota bisnis dan perdagangan, tak heran jika setiap hari kita jumpai kepadatan lalulintas di jalan-jalan utama di Surabaya. Polusi dan emisi karbon akibat semakin meningkatnya kendaraan bermotor dikombinasikan dengan cuaca di kota Surabaya yang panas (karena dekat dengan pantai) membuat berlalu lintas di kota ini menjadi tidak nyaman. Masalah kemacetan memang tidak sepelik yang dihadapi kota Jakarta, namun rasanya kebebasan menghirup udara bersih sudah sulit sekali dirasakan di kota ini, apalagi bebas berjalan-jalan di sepanjang jalan utama kota.

Bayangkan kenyamanan berjalan-jalan di sepanjang jl.Ijen (Malang) atau Kawasan Renon (Denpasar), bisakah kita menikmati Surabaya seperti itu?

Ternyata bisa juga,
Adanya program Car Free Day yang direncanakan 2 kali sebulan, kiranya bisa mewujudkan angan untuk menikmati sejuknya udara kota Surabaya.


Foto diatas menggambarkan para penggemar sepeda sedang bercengkrama di sisi luar gedung lama Museum Mpu Tantular dan keceriaan anak-anak yang riang bermain di jl.Darmo Surabaya pada saat pelaksanaan Car Free Day, 18 Januari 2009 lalu . Sayapun merasa sungguh menyenangkan menikmati berjalan di Raya Darmo Surabaya dan kebebasan menghirup udara segar saat itu.


January 7, 2009

10.000 Langkah Tak Cukup Untuk Jadi "sama Pintar"



Foto-foto diatas saya ambil dari jalanan di sebuah lereng pegunungan di Jawa Timur. Sayangnya, tidak begitu nampak jelas. Sebenarnya sudah beberapa kali saya melihat pemandangan ini di beberapa lokasi yang berbeda, dan sudah beberapa kali pula dibenak saya muncul pertanyaan, "Anak-anak ini sekolahnya dimana ya?"

Mereka tampak tiada beban, mereka nampak santai menikmati perjalanan menuju sekolah yang lebih dari 5 kilometer jauhnya dari rumah dengan jalanan yang menanjak dan terkadang bergeronjal hanya dengan "berjalan kaki". Tidak terbayang, berapa jam sebelum lonceng tanda masuk di sekolah mereka berbunyi mereka harus sudah berangkat dari rumah? bagaimana rasa capek yang mereka rasakan saat harus menempuh perjalanan panjang itu? apakah sesampainya di sekolah, mereka masih cukup memiliki energi untuk berfikir dengan jernih tentang berbagai pelajaran di sekolah?

Sementara di perkotaan, anak-anak seusia mereka dengan mudah menuju sekolah, belajar dan bermain.

Begitu jelasnya perbedaan proses belajar yang ditempuh oleh siswa di pedesaan dan di perkotaan. Yang kebetulan saya foto hanyalah perbedaan menuju tempat belajar (yakni sekolah), belum lagi perbedaan fasilitas, sarana dan prasarana belajar. Lalu, dengan segala perbedaan yang ada, semua siswa di 2 kelompok ini ditargetkan untuk jadi "sama pintarnya" dengan indikator "sama-sama lulus UNAS". Apa yang bisa menjembatani supaya semua siswa menjadi "sama pintar".

Ajang Pemilihan "Caleg" ataukah "Cak & Ning"


Tahun 2009 ini kita memasuki tahun pemilihan umum. Gaungnya sudah bisa kita dengar dan saksikan dari kampanye-kampanye partai beserta para caleg-nya, baik melalui media elektronik maupun non elektronik. Setiap meter melintasi jalanan kota, setidaknya ada poster atau billboard ataupun spanduk berisi slogan-slogan kampanye dari masing-masing caleg.

Hal yang menarik perhatian saya adalah foto-foto para caleg itu, yang seakan ga mau kalah dengan foto si-cantik luna maya dalam promosi XL atau ga mau kalah dengan foto monyet yang di iklan XL?


Mulai dari foto sederhana KTP, foto dengan memakai jas almamater kampus, foto dengan gaya ibarat "ibu peri" yang penuh perhatian bahkan beberapa adalah foto dengan gaya ibarat "calon putri indonesia" atau "cak & ning suroboyo".

Ada lagi yang maksudnya ingin melakukan "diferensiasi", dengan menuliskan memapang foto dengan riasan serta busana daerah yang khas sehingga mengundang mata orang untuk melihat. Tapi, bagaimana ya saat pemilihan nanti, dimana yang tampak adalah caleg-caleg berbusana formal? Jangan-jangan banyak yang terkecoh dan tidak bisa memilah wajah aslinya?

Apa ya yang ada dalam pemikiran mereka saat memajang foto-foto itu. Saya sebagai pemilih yang kebetulan tidak mengenal mereka, bagaimana bisa tergerak untuk menjatuhkan pilihan pada masing-masing mereka hanya dengan melihat pajangan poster foto-foto itu?

Berjuang untuk mendapatkan suara dari para pemilih tentunya berbeda dengan sebuah merek yang berjuang untuk mendapatkan Top of Mind di benak calon konsumen. Dan tentunya berbeda dengan usaha seorang yang ingin menjadi finalis putri Indonesia atau Cak & Ning Suroboyo.

Sebuah merek bisa terukur secara kuantitatif karena bisa dirasakan oleh setiap konsumennya, bahkan bisa mencicip dulu (karena ada tester), ga suka ya ga jadi beli. Bagaimana dengan seorang caleg? Apalagi yang hanya bisa saya lihat gambarnya saja. Siapapun yang menjadi putri Indonesia atau yang menjadi Cak dan Ning, ga penting buat saya, hanya seneng aja lihat wajah cantik seorang putri atau gantengnya seorang cak. Apakah itu target dari pemasangan poster/ billboard/ spanduk para caleg di jalanan?

September 16, 2008

Selamat Untuk Batik Indonesia


Batik, sekitar 10 tahun yang lalu ketika seseorang mengenakan busana bermotif ini terkesan sebagai seseorang yang akan menghadiri acara formal dan identik dengan orang dengan usia matang (diatas 30 tahun). Namun, kini kesan ini seolah hilang. Hampir bisa kita temui orang-orang berbusana batik dengan nuansa yang santai dan tidak hanya dikenakan oleh orang-orang usia matang, akan tetapi remaja dan bahkan anak-anak.

Berbusana dengan motif batik kini telah menjadi trend. Wanita-wanita Indonesia tampak makin cantik dan anggun dalam balutan kain batik ini. Tak ada lagi kesan "tua", jika melihat orang berbusana batik.

Ini adalah sebuah kesuksesan, yakni kesuksesan untuk merubah image. Produk boleh sama, namun kemasan perlu didesain memenuhi kebutuhan konsumen. Dan kemasan kali ini adalah pada kreasi model busana batik. Model busana batik kini begitu beragam. Kombinasi kain batik dengan jenis kain yang lainpun (seperti : kaos, katun polos, satin, bahkan kain rajut) dimungkinkan untuk mencipta kesan baru. Kesan santai yang selama ini tak nampak.

Kesuksesan ini tentunya bukan kebetulan. Ada strategi marketing yang patut diacungi jempol untuk berani merubah kemasan produk yang seakan-akan dianggap produk sakral ini. Dan awal dari semua itu tentu adalah kelihaian dalam kebutuhan dan perilaku pasar secara psikografis.

Saat apa konsumen merasa nyaman mengenakan busananya? Salah satu jawaban adalah saat mereka merasa mengenakan busana sesuai dengan waktu dan tempatnya.

Apakah dalam kehidupan sehari-hari begitu banyak kegiatan formalitas yang harus dihadiri? Pada tahapan ini, tampaknya ada pengelompokkan pasar berdasarkan usia dan aktivitas.

Tak berhenti sampai disini, desain busana selanjutnya dirubah dengan berani mengikuti selera kenyamanan konsumen, yakni busana sehari-hari. Pemetaan pasar memudahkan para perancang mengisi celah dan memanfaatkan peluang "produk anak negeri". Para perancang bukan hanya merancang busana yang tampak indah bagi mereka sendiri atau tampak indah saat peragaan busana, namun yang realistis bisa dipakai konsumen, dalam kesehariannya. Pada tahap ini, peran etnografi survey sangat membantu untuk melihat insight dengan lebih detail dan spesifik.

Langkah selanjutnya hingga batik menjadi busana yang cukup digemari saat ini adalah variasi harga. Harga batik begitu terjangkau sehingga orang tak segan untuk mencoba, "pantas atau tidak ya, mengenakan busana ini?". Bayangkan saja paling murah saya menemukan harga baju atasan batik seharga Rp.25.000,- dan paling mahal bisa mencapai Rp.500.000 bahkan untuk gaun ada yang seharga Rp.1.000.000,-.

Apa yang dapat membedakan memunculkan variasi harga yang begitu besar ini? Tak lain adalah desain dan kualitas. Desain terkait dengan apakah busana merupakan rancangan original dari perancang terkemuka atau merek terkenal seperti Batik Keris ataukah desain sudah merupakan rancangan imitasi? Selain itu juga pada kombinasi accesoris, apakah accesoris merupakan pernik yang susah dicari atau mahal, atau hanya merupakan pernik imitasi yang juga tak kalah cantik dengan aslinya. Kualitas kain juga mempengaruhi harga busana batik. Mau pilih kain batik berkualitas dengan bahan halus dan motif batik tak mudah luntur, atau hanya dengan ala kadarnya kain batik yang mudah kusam setelah berulangkali dipakai. Ala kadarnya kain batik, inipun juga pilihan bagi konsumen-konsumen yang ingin dikesankan memiliki banyak busana atau selalu mengikuti trend busana, sehingga mereka tak perlu berulangkali memakai busana yang sama.

Langkah lain adalah kesiapan para produsen busana batik memperluas jalur distribusi. Jika dulu kita hanya akan menemukan batik di butik-butik tertentu atau pasar kain tradisional dan harus datang kesana. Kini makin banyak toko online untuk batik, anda dapat melihat desain, detail produk dan memesan secara online (seperti ini).

Dan yang terakhir serta penting untuk diperhatikan untuk menjaga persepsi "baik" batik, menjaga kepuasan dan loyalitas pelanggan adalah diberikannya tips-tips perawatan kain batik oleh para penjualnya seperti disini.