January 20, 2011

OTCC : Formulasi Menarik tuk Tumbuhkan Bisnis



Tak jarang kita merasa hanya memiliki 2 tangan, otak yang terbatas dan merasa lelah. Banyak peluang di depan mata, akhirnya pun lepas. Bukan karena lalai atau tak sensitif dengan peluang itu, melainkan lebih pada alasan "keterbatasan". Namun, jika terlalu memaklumi alasan ini, apakah bukan malah menjadi bumerang bagi bisnis kita?


Kalau mau bercermin, apakah benar-benar ini adalah sebuah "keterbatasan", atau kah kita yang kurang cerdik dalam mendayagunakan semua sumber daya di sekitar kita?

OTCC, saya sebut sebuah formulasi menarik untuk menyiasati kendala ini. Sebuah formulasi yang patut dipertimbangkan kala ingin tumbuhkan bisnis anda.

Bagaimana caranya ?

- Owner :
Anda adalah owner dari sebuah bisnis. Owner bisa 1 orang atau lebih. Tapi yakini, sebagai owner, anda memiliki "pelatih" yang mengarahkan/ memandu jalan bisnis anda.
- Team :
Jika anda adalah owner dari sebuah bisnis, hal utama yang harus anda pikirkan adalah keberadaan team. Walaupun sah-sah saja jika anda langsung menangani customer, namun alangkah baiknya jika perlahan-lahan libatkan team anda. Untuk ini, anda memang harus bertindak sebagai "pelatih" team untuk memintarkan team anda. Memang ada resiko, yaitu kesalahan memilih team, namun tentunya hal ini bisa diminimalisasi dengan proses pemilihan team.
- Customer
Suatu saat, biarlah team yang akan terlibat erat dengan customer anda. Team lah yang akan memuaskan para customer.

- Company
Dan pada saat customer puas, transaksi ulang akan terjadi dan ini akan menguntungkan bisnis anda (company). Dan ketika company bertumbuh, maka anda sebagai owner yang kembali akan diuntungkan.


Siklus ini akan terus berulang, dan sebenarnya kunci utamanya adalah pada kesiapan owner untuk menjadi "pelatih" yang tangguh pada team nya.

Selanjutnya....

December 16, 2010

Perjuangan Hidup





Pernah melihat kejadian-kejadian mirip ini?

Kalau saya pribadi, setelah ulak-alik dari Surabaya ke Gresik, jadi sering lihat yang seperti ini. Yang terlintas dalam benak saya, mulai dari : "terheran-heran", "bahaya", "was-was", "menghindar", "trenyuh" dan hingga tak mampu lagi hendak berkata apa.


Saya heran :
Kog bisa mereka melakukan hal-hal seperti itu? Secara logika, jelas hal ini membahayakan pelaku dan orang lain... membahayakan saya juga mungkin sebagai pengguna jalan yg berpapasan atau bersamaan dengan mereka.

Saya was-was :
Aduh, jangan sampai saya mendekat pada mereka hingga menyenggol barang bawaannya, aduh... bagaimana kalau ada pengendara lain yang "ngebut" hingga mengenai mereka?

Tapi disisi lain, saya pun trenyuh...mau dibilang apa seandainya saya tegur mereka :
Saya : Pak, gak takut ambrol barang bawaannya? Ga takut jatuh bu?

Pembawa rumput : Trus saya naik apa mbak,... ini kendaraan yg saya punya...kalau saya bolak-balik ga nutut waktunya, jauh mbaak...


Pengendara motor boncengan beberapa orang, Bapak & Ibu pembawa barang/ sayur naik motor : Ya, ini biar cepet mbak, sekalian ... karna tempatnya jauh, kalau ulak-alik bensin dan waktu nya ga nututi

Tukang becak pembawa sayur dan ibu yg naik diatasnya : enggak mbak, sudah biasa... jaraknya sih ga terlalu jauh, tp kalau bolak-balik nanti kapan saya jualannya, ini saja saya masih bolak-balik 3-5x


Pembawa lemari : saya ini kan pengrajin kayu, kerja sendiri, ngirim sendiri... punya kendaraan juga baru motor ini... kalau saya angkut pake pick up, berapa harga mebel yang saya jual, kalau orang-orang bandingkan dengan harga di mall... mebel saya bisa gak laku mbak


Hmm, mendengar dan merasakan apa kesulitan mereka... rasanya memang tidak bisa dipikir secara logika, hal-hal membahayakan yang mereka lakukan... bapak-bapak ini harus menghidupi keluarganya, ketrampilan inilah yang mereka miliki, sarana ini saja yang mereka punyai... mereka harus benar-benar "ngirit", untuk bisa menabung dan akhirnya memiliki sarana yang lebih layak untuk digunakan dalam bekerja.

Ya, saya akhirnya tak mampu berkata apa-apa... saat ini mungkin belum bisa membantu orang-orang seperti ini, selain dengan doa, selain dengan tidak "menghargai murah" hasil jerih payah mereka (bahkan jangan sampai, menawar barang yang mereka jual dengan tidak realistis), tapi semoga suatu saat sedikit demi sedikit bisa meringankan beban mereka. Amiin

Satu hal yang patut dicontoh dari mereka : adalah semangat kerja, tak pantang menyerah, untuk mereka dan orang-orang yang mereka cintai. Selain keceriaan yang nampak dari mereka saat bercengkrama dengan rekan-rekan kerjanya di sela kesibukan penuh keringat.

Selanjutnya....

December 7, 2010

Fenomena Perbukuan saat ini, tak adakah lagi harga untuk sebuah kualitas?

Dua hari ini, setelah berkeliling di beberapa toko buku : Gramedia, Togamas, Uranus dan Rumah buku dan setelah sekian banyak membaca daftar buku tersaji di beberapa distributor, ada perasaan "trenyuh" dan prihatin".


Dengan membaca buku kita membentang cakrawala pengetahuan, dengan menulis kita berbagi ilmu... buku adalah cendela untuk lebih berkarya, bagi penulisnya dan bagi pembacanya.


Namun, fenomena apa yang terjadi dengan "perbukuan" di tanah air tercinta kita?
Kini kian banyak buku beredar (dengan topik yang mirip-mirip sama). Dengan topik yang kurang lebih sama itu, tidak ada yang lebih melengkapi, bahkan ada tata bahasa dan sajian yang "sama", rasanya miris sekali... pembaca awam yang ingin belajar tentang materi didalamnya, seakan tertipu... hanya membeli tumpukan kertas tanpa makna cukup yg bisa diserap.


Kinipun kian banyak penerbit, namun begitu banyak buku diterbitkan tanpa "pengarang"... aneh, tapi nyata. Buku inipun ber-ISBN, dan setelah sedikit browsing, ternyata sebagian hanya menyalin atau menterjemahkan isi buku lainnya. Beberapa penerbit pun seakan tak cukup mengapresiasi karya tulis, terbukti dengan diobral hancurnya harga buku, sampai saya menemukan buku berharga Rp.5.000,- dan bahkan Rp. 2.000,- dengan isi yang lumayan berbobot.


Apresiasi atas pemikiran berharga tampaknya tak ada lagi, semuanya hanya dihargai sebagai kertas... "buku tipis segini aja harganya mahal banget sih?, fotocopy saja gak akan sampe Rp.2.000,- deh ".
Hmm, kalimat ini pernah terdengar di telinga saya dari sekelompok mahasiswa, ketika sedang berjalan-jalan di Gramedia. Panas juga telinga ini, mungkin karena saya juga seorang penulis, mungkin karena saya juga terlibat di penerbitan buku,.. tapi coba perhatikan kalimat ini :

Quote dari Mario Teguh (yang saya ketahui dari seorang rekan penulis : Rezi Arlansyah Soripada)
Jika saya berkualitas tinggi,dibayar rendah oleh orang yang TIDAK mampu,dan saya terima dengan ikhlas;itu namanya berharap kepada Tuhan.
Jika saya berkualitas tinggi,menerima bayaran rendah dari orang yang mampu membayar,itu berarti saya tidak menghargai diri saya.
Saya harus meng-HARGA-i diri saya sebagai anugerah dari Tuhan.
Saya tidak bekerja untuk bayaran.
Saya bekerja untuk harga diri saya


Sebagai pembaca buku, apakah perbuatan yang pantas, bila menganggap harga buku layaknya harga kertas bekas? Apakah tak ada apresiasi apapun yang pantas anda berikan bagi penulis buku yang telah berbagi pengetahuan pada anda?


Jika mengharapkan kondisi ideal dari fenomena ini, "seharusnya" Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI), Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) segera bertindak. Masih banyak penulis yang kreatif dan benar-benar mencurahkan ilmunya untuk berbagi dalam tulisan. Namun, saya pun saat ini bukan siapa-siapa dalam IKAPI maupun PNRI. Setidaknya, melalui tulisan ini saya mengajak anda para penulis, untuk tidak menyerah dalam tulisan kreatif dengan gaya masing-masing dan tak menyerah dengan "harga" yang diberikan penerbit maupun pembaca untuk anda. Semoga, tulisan singkat ini, pun bukan tulisan sampah untuk pembacanya dan menginspirasi kita semua.

Selanjutnya....

June 24, 2010

Certain Predictable ?

(Brainstorming RTM-1 Berbagi.NET di Semarang, Januari 2007)

Benarkah ada hal-hal yang mudah ditebak dengan tepat saat melaksanakan kegiatan promosi ?
Benarkah ada perilaku-perilaku spesifik target segmen yang memudahkan kegiatan promosi berlangsung ?
Siapa yang paling berperan ? customer atau provider ?
Lalu apa kaitan crowdsourcing dengan fakta-fakta terprediksi ?



Berikut adalah rangkuman pokok pikiran selama empat sesi dalam rangkaian RTM-01 yang baru lalu di Semarang. Rangkuman disusun sesuai alur-emosi perbincangan. (Didin-Co-Writer Admin)

Dalam komunikasi produk barang dan jasa, diakui kecerdasan customer menentukan cara memilih produk yang digunakan/dikonsumsi. Tetapi bagaimana cara customer dapat diikuti oleh para pelaku bidang pemasaran ?

Edukasi Customer(kastamer)
Secara garis besar perilaku dasar untuk memperoleh perhatian saat promosi adalah intonasi, diksi dan susunan kalimat saat proses penyampaian berlangsung, terutama untuk jenis komunikasi lisan dan visual. Tetapi hal ini pun ternyata dapat diterapkan untuk jenis komunikasi tertulis, yang dapat dicantumkan dalam berbagai bentuk cetak.
Bentuk-bentuk yang harus diperhatikan :
1. Model atau visual dari kesan yang diharapkan
2. Bentuk kalimat (dalam bahasa Indonesia) diminta tak lebih dari 3 kata yang mudah diucapkan, terutama dalam genre lokal.
3. Jika edukasi diharapkan berlangsung panjang, karena materi awal promosi dirasa belum dapat dikenali dengan mudah, maka para penyusun materi diharapkan dapat menyusun framework(kerangka kerja) yang dapat terekam oleh target-market mereka, untuk promosi lanjutannya.

Sehingga bentuk komunikasi yang tercipta adalah, kemampuan customer mampu merekam dan mengenali struktur promosi yang disampaikan, yaitu :
1. Structure-Awareness : kepedulian struktur yang menunjukkan bahwa pasti yang dilihat adalah terkorelasi dengan produk tertentu
2. Some way to sort and to collect : kemampuan mengenali dan akhirnya membedakan sekaligus memperoleh hal baru yang diinformasikan dalam kegiatan promosi tersebut
3. Customer-Mental-Framework : membiarkan customer menyusun rencana penggunaannya secara mandiri, juga mengorganisasi informasi dari promosi tersebut agar terhindarkan dari kebingungan dari produk sejenis.

Edukasi = Persuasi, saat promosi produk ?

Sesaat ditemui kebingungan, ketika harus menjawab pertanyaan diatas, dapatkah dibenarkan atau etiskah ?
Anggap saja dapat ditolerir pada batas tertentu, maka akan muncul pertanyaan berikutnya; di posisikah manakah para promotion agent ini ?

Maka harus ada anggapan berikutnya, bahwa begitu banyak kelebihan di dalam produk yang ditawarkan, maka jelas mereka berposisi di benefit-promisers. Timbul kekhawatiran, mana mungkin meyakinkan ? Tentu tidak ada kepastian dalam proses ini, jika tidak yakin dalam diri sendiri terlebih dahulu.
Mana mungkin ada kegiatan tanpa proses seperti ini ? tentulah sangat banyak. Siapa yang paling bertanggung jawab ? tentulah promotion agent bersangkutan.

Dalam kondisi seperti ini, apa yang harus dipertimbangkan ?
Carilah sebanyak mungkin kosa kata yang paling bisa digunakan untuk mengekspresikan produk tersebut, dan tentu saja juga lengkapkan dengan lawan katanya untuk mempertimbangkan kelemahannya.
Lalu pilihlah satu demi satu untuk diurutkan.
Lalu kenalilah kekuatan setiap kata saat diucapkan pada lawan bicara.
Jika ditemukan ada kekuatan yang lebih tinggi pada kata diurutan yang tak sesuai maka lakukan pengurutan ulang.

Maka sebenarnya inilah salah satu teknik certain-predictable yang dapat dilakukan untuk kegiatan promosi produk baru.

Disalin dari artikel di Berbagi.net

Selanjutnya....