July 2, 2007

Perlukah General Check-Up pada perusahaan anda ?

Seorang yang telah menginjak usia dewasa atau setidaknya melewati batas usia 30 tahun, dianjurkan untuk melakukan general check up untuk mengetahui apakah ada organ tubuh yang sudah tidak berfungsi dengan baik. Lalu perlukah perusahaan anda melakukan General Check-Up ?




Yang saya maksudkan disini bukan check up kesehatan untuk karyawan, namun check up untuk management perusahaan itu sendiri. Kenapa ? Dan penyakit apa saja yang bisa timbul pada perusahaan yang telah menginjak usia lanjut tersebut ?


Sebuah perusahaan yang telah beroperasi selama lebih dari satu dekade, pada umumnya mengalami berbagai perubahan yang bisa berarti perubahan baik maupun perubahan buruk yang akhirnya bisa menjadi penyakit kronik. Sebagai contoh, sebagian karyawan menjadi acuh terhadap tugasnya (atau dengan istilah seorang kerabat : “MAMIK” = “MAlas MIKir”), banyak keputusan yang lambat dan berbelit, banyak aktivitas yang berjalan bergantung pada seorang manager sedangkan manager-manager yang ada tidak peduli dengan aktivitas di bagian lain dengan dalih : "saya tidak paham, itu bukan tanggung jawab saya".

Jika contoh-contoh diatas anda temui pada sebuah perusahaan, inilah sebuah signal bahwa perusahaan tersebut berpotensi menderita suatu penyakit dan membutuhkan general check up, untuk memperbaiki bagian-bagain yang sudah tidak berfungsi sebagaimana mestinya dan akhirnya performance perusahaan menjadi tidak lagi optimal. Dalam sebuah perusahaan kondisi seperti ini dapat terjadi karena berbagai pengaruh : sosial, ekonomi, politik dan perusahaan tidak mampu lagi mengendalikan managemen.

Lalu bagaimana menanganinya ? Berikut ini adalah penyakit-penyakit yang seringkali muncul pada perusahaan dan sedikit tips untuk pengobatannya :

1. Sakit Punggung (Backache)

Ciri utamanya adalah pada saat seorang manager disebuah perusahaan tidak memiliki keberanian untuk membuat suatu keputusan terhadap adanya satu issue/ permasalahan. Akibatnya, banyak karyawan tidak lagi percaya dan enggan pada management karena mereka menilai segala keputusan terlalu lamban serta tidak konsisten. Jelas, bahwa selanjutnya produktivitas akan menurun.

TIPS : Bina komunikasi dengan karyawan secara konsisten dan jangan pernah merasa lelah dalam meyakinkan/ mendukung mereka dalam menyelesaikan segala permasalahan. Bergabung suatu pelatihan/ seminar kepemimpinan mungkin adalah salah satu alternatif yang bermanfaat, tetapi yang paling penting, adalah menjadi figur yang dipercaya.


2. Hipertensi

Penyakit ini dapat dianalogikan sebagai suatu kekecewaan atau kemarahan yang kerap terjadi dalam perusahaan. Alasannya adalah tidak adanya penghargaan, promosi jabatan yang kurang transparan, karyawan merasa diabaikan. Jika kondisi ini tidak segera ditangani, maka yang terjadi selanjutnya adalah munculnya berbagai protes keras dari karyawan, perusahaan kehilangan orang-orang cerdas dan kreatif dan sabotase beberapa orang penting di perusahaan oleh perusahaan kompetitor.

TIPS : lakukan pertemuan reguler, lakukan perbincangan-perbincangan ringan dengan karyawan untuk mencairkan suasana sekaligus menggali permasalahan yang berkembang dalam lingkungan kerja. Segera setelah itu lakukan respon perbaikan.


3. Hipotensi

Ini adalah suatu kondisi dimana karyawam merasa sangat tidak nyaman di perusahaan karena mereka tidak dapat mengeksplorasi ide-ide kreatif mereka. Terlalu banyak aturan yang tidak seharusnya, tidak ada suatu kesempatanpun untuk bereksperimen, atasan dan bawahan diperlakukan dengan cara yang sangat berbeda. Akhirnya, karyawan menjadi apatis. Ciri umumnya adalah : semakin banyaknya absen, dan perilaku negatif karyawan terhadap pekerjaannya.

TIPS : Jangan bersikap terlalu kaku. Ijinkan karyawan untuk membuat kekeliruan, jika kekeliruan tersebut adalah suatu jalan/cara untuk belajar dan bereksplorasi. Dengarkan gagasan karyawan, sekalipun mereka berasal dari tingkat yang paling rendah. Jangan melupakan untuk memuji atau, jika mungkin, berikan apresiasi terhadap suatu gagasan kreatif yang memberi nilai tambah pada perusahaan dan karyawan tersebut.


4. Gangguan Pendengaran

Manusia butuh didengarkan. Harga yang harus dibayarkan bila perusahaan tidak mau mendengarkan karyawan adalah karyawan akan bersikap acuh dan tidak lagi memperdulikan instruksi kerja yang ada.

TIPS : Dengarkan selalu feedback dari karyawan. Jika perlu lakukan observasi/ survey mengenai kepuasan kerja dan lakukan perbaikan berdasarkan hasil observasi/ survey tersebut secara serius. Jangan bersikap defensif terhadap hasil observasi/ survey anda.


Penyakit-penyakit diatas adalah gejala awal menuju kelumpuhan atau bahkan kematian sebuah perusahaan. Sebuah perusahaan, layaknya tubuh manusia tentunya harus dirawat dan dilakukan check-up berkala. Jika anda adalah top management di perusahaan dan masih peduli pada daur hidup perusahaan anda siapa tahu anda mungkin punya kesempatan untuk menyelamatkan perusahaan dari kemungkinan kelumpuhan atau kematian.


Artikel juga dipublikasikan di berbagi.net

1 komentar:

Dani Iswara said...

mungkin yg punya asuransi kesehatan musti was-was ya bu.. :) usia-usia rawan..

Dani Iswara Weblog