June 15, 2007

Ingin Berubah atau Mati ?!

Judul buku : Change!
Penulis : Rhenald Kasali, Ph.D.
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 456 halaman





ImageBerubah atau mati ? Buat apa suatu perusahaan, institusi, lembaga atau organisasi terus dipertahankan jika hanya menjadi beban, pusat keluhan dan membawa kerugian bagi orang lain ? Yang diperlukan adalah perubahan (Change). Inilah buku yang sangat berharga dan menginspirasi bagi siapapun yang dengan tuntas membacanya.
Perubahan adalah pertanda adanya kehidupan dan memberikan harapan untuk lebih baik Banyak alasan kenapa kita harus berubah ;
  • Ubud menjadi daerah wisata yang sangat terkenal didunia karena perubahan yang dilakukan Raja Ubud, Tjokorda Gde Agung Sukawati. Ia berfikir, rakyatnya tidak bisa terus menerus hidup dalam kekurangan dan ketidakmampuan, sehingga Raja Ubud merasa perlu melakukan perubahan, mendatangkan seniman-seniman terkenal dan meminta mereka mengajarkannya pada masyarakat Ubud
  • Garuda Indonesia yang pernah menerima penghargaan dari Bandara Schipol di Amsterdam sebagai “the most punctual airlines”, empat tahun kemudian menutup rute penerbangan di Amsterdam (satu-satunya rut eke Eropa yang dimilikinya) dengan alasan bahwa rute ini tidak lagi menguntungkan
  • Pembuat chips computer Intel berhasil melakukan transformasi dari produsen memory chips menjadi produsen microprocessor dan akhirnya menjadi tren teknologi masa kini.
Dan banyak lagi contoh-contoh perubahan yang terjadi di dunia ini. Namun, perubahan tidak dapat berjalan dengan sendirinya. Misalnya, untuk menciptakan perubahan dalam sebuah perusahaan/ organisasi dibutuhkan “great team” dan “great player”. Selain itu, perubahan perlu dilakukan secara konseptual sehingga tidak menyesatkan atau berhenti di tengah jalan. Pada setiap keadaan yang berbeda, diperlukan strategi dan cara yang berbeda-beda.

Untuk menghasilkan perubahan, dituntut tiga hal, yakni : Melihat, Bergerak dan Menyelesaikan sampai tuntas. Bagi beberapa orang, melihat perubahan adalah satu hal yang sulit, bagaikan melihat sesuatu yang kasat mata. Jika diteliti, orang-orang tertentu tidak mudah melihat suatu perubahan karena beberapa hal :
  • Tidak ada cahaya sama sekali, artinya tidak ada energy untuk melihat dan bergerak. Orang-orang yang hanya hidup pada lingkungan tertentu, tanpa ada interaksi dengan dunia lain dan merasa nyaman dengan kemapanan yang ada, bisa menjadi buta karena tertutup dan tidak ada cahaya sama sekali.
  • Terlalu banyak cahaya. Terlalu banyak cahaya bisa membutakan juga. Orang-orang yang penuh dengan pujian, penuh dengan sejarah keberhasilan kelamaan akan terlena dengan masa lalunya sehingga tidak melihat perlunya perubahan.
  • Memegang peta yang salah. Arahan perubahan bisa saja dibuat oleh orang yang salah, yang tidak cukup pengetahuan dan kurang berpengalaman, atau bahkan pesaing yang ingin mengacaukan perubahan. Tentunya, peta/ arahan yang dibawa ini akan menyesatkan
  • Melihat dalam terowongan. Seringkali orang terjebak dalam sebuah terowongan dan hanya melihat dunia dari kacamata yang sempit. Misalnya di sebuah perusahaan, manajemennya hanya memantau persaingan sebatas yang dilihat secara teknis; yaitu pesaing yang membuat produk sejenis/ dengan metode yang sama persis. Pada saat ada pendatang baru yang muncul dengan strategi produk dan metode yang sama sekali berbeda, mereka tidak melihat pendatang baru itu sebagai pesaing, padahal kelamaan mereka bisa habis terlibas.
Untuk membantu orang-orang melihat, ada tiga hal yang harus dilakukan yaitu : menciptakan kontras, menciptakan konfrontasi dan menggabungkan atara kontras dan konfrontasi.

Setelah melihat, perlu dilakukan pergerakan menuju perubahan. Untuk dapat mengajak orang bergerak memang tidak mudah, mereka tentu takut akan resiko perubahan, mereka belum merasa jelas dengan perubahan yang dilakukan, tidak ada dukungan dan tidak ada blue print strategy. Keempat hal tersebut harus dieliminir, resiko harus dihitung, energy serta team yang mendukung harus diciptakan dan tentunya perlu dirumuskan blue print strategy (a clear destination, resourches, rewards).

Perubahan juga harus diselesaikan. Seseorang yang melihat belum tentu bergerak dan mereka yang bergerak belum tentu memiliki persistensi serta daya juang yang cukup untuk menyelesaikan karena keletihan atau kehilangan kepercayaan. Maka selanjutnya, dalam perubahan sangat diperlukan kejelasan dan panel-panel indikator keberhasilan proses perubahan.

Selanjutnya, untuk menuju sebuah perubahan diperlukan dua hal, yaitu : simplisitas dan kecepatan. Kekuatan simplisitas diyakini merupakan alat yang penting untuk memperoleh posisi daya saing. Sedangkan kecepatan bukan semata-mata urusan gerak dan bertindak, melainkan melibatkan banyak hal : akses, kecepatan berpikir, kecepatan memutuskan, bingkai eksekutif, kecepatan bertindak, antisipatif, kerjasama team, dan teknologi.

Setelah sepakat dengan adanya perubahan, hal terpenting yang dilakukan adalah berorientasi pada tindakan. Tidak berorientasi pada tindakan sama halnya dengan tidak berani mengambil risiko. Namun, tindakan yang hebat jika tidak dilandasi dengan strategi yang betul , akan sia-sia. Beberapa tindakan berikut diperlukan untuk mengawali suatu perubahan :
  1. Jangan abaikan strategi
  2. Bertindak seperti tikus (Tidak takut bereksplorasi/ bereksperimen dengan hal-hal baru)
  3. Warnai perubahan dengan mimpi-mimpo besar
  4. Tumbuhkan kesadaran bahwa setiap awal pasti sulit
  5. Berikan “Value” pada dunia
  6. Berorientasi pada bisnis

Setiap perubahan selalu membawa nilai-nilai baru. Inilah yang disebut transformasi nilai. Tidak jarang, nilai-nilai baru itu tidak dikehendaki oleh lingkungan dan seringkali menimbulkan hambatan pada proses perubahan. Namun, suka atau tidak suka, transformasi nilai akan tetap terjadi saat kita melakukan perubahan. Yang perlu dilakukan untuk miminimalisasi hambatan dan membuat perubahan berjalan dengan cepat adalah : memanfaatkan budaya (budaya perusahaan/ organisasi), menata kembali elemen-elemen budaya perusahaan/ korporat dan menyatukan nilai-nilai sub kultur di perusahaan/ organisasi tersebut.

Setelah semuanya dapat berjalan dan nilai-nilai yang baru terbentuk dan budaya baru disepakati sebagai budaya perusahaan/ organisasi, hal yang perlu dilakukan adalah memperkuat budaya itu hingga mampu memberikan jawaban terhadap perubahan. Oleh karenanya diperlukan beberapa hal berikut :
  1. Leadership yang kuat
  2. Dukungan bawahan
  3. Komunikasi yang jelas
  4. Komitmen pemimpin
Dibagian akhir buku, penulis menekankan bahwa untuk bersama melakukan perubahan perlu diciptakan atmosfer yang menyenangkan dan membawa harapan lebih baik. Seorang pemimipin yang sukses melakukan perubahan adalah pemimpin yang membuat perubahan benar-benar menjadi sebuah pesta kebahagiaan dan harapan yang cerah bagi siapapun pelaku perubahan.

1 komentar:

marmotji said...

Kejem banget seh ulasannya ?
Hehehe...perusahaan macam begitu banyak banget di kota-kota besar kita.
Saya pikir manajemen seperti tak pernah beradaptasi sebenarnya berkonsentrasi hanya pada akumulasi dana saja, value human tersingkirkan.
Betul ?